Pro atau tidak, analisa kita bisa lebih tajam

Memilah Kekuatan Tempur Raksasa Piala Dunia 2014

Nah, setelah sebelumnya kita sudah membahas tim-tim kuat atau kuda hitam di Piala Dunia di artikel sebelumnya. Sekarang giliran kita untuk menganalisa amunisi-amunisi raksasa pada Piala Dunia 2014 Brazil nanti. Skuad-skuad ini adalah kekuatan tradisional dunia yang saya yakin pemegang piala supremasi tertinggi sepak bola dunia 2014 nanti ditambahkan Kolombia dan Belgia tidak akan jauh-jauh dari 9 tim ini.

Oke, langsung saja kita bahas.

1. Argentina : Buktikan Bukan Tim Nasional Messi

Argentina

Argentina

Apa yang paling sering menjadi sasaran gunjingan publik tentang seorang Lionel Messi ? Apalagi kalau bukan timpangnya prestasi Messi antara klub dan timnas. Sampai saat ini, hanya medali emas Olimpiade Beijing yang berhasil diberikan Messi untuk negaranya. Tapi perlu kita catat, Olimpiade bukanlah kompetisi resmi dari FIFA.

Status Messi untuk menjadi bagian dari pemain terbaik sepanjang masa masih terganjal oleh 1 hal, ialah Piala Dunia. Sejauh ini, dari 2 kali keikutsertaannya di Piala Dunia, Messi hanya berhasil mencetak 1 gol yang terjadi pada gelaran Piala Dunia 2006 Jerman. Bandingkan dengan ratusan gol dan puluhan rekor yang dicetaknya bersama Barcelona.

Argentina berani saya klaim sebagai negara dengan barisan striker terbaik didunia. Sekarang tinggal mengolahnya bagaimana agar barisan amunisi berharga itu dapat berfungsi secara efektif. Dari Pekerman sampai Batista, belum ada formula yang tepat untuk mengolah barisan striker-striker itu tampil maksimal dengan tujuan yang hampir sama, yaitu mengeksploitasi kemampuan seorang Lionel Messi. Baru dijaman Alejandro Sabella inilah teka-teki itu mulai terjawab. Leo mulai rajin mencetak gol bagi skuad Albiceleste. Hujatan publik Argentina kepada Messi mulai berubah menjadi harapan. Argentina seperti mengikuti Messi, jika Messi bermain baik hasilnya Argentina mampu tampil baik bahkan memuncaki klasemen kualifikasi zona CONMEBOL dan tampil memuaskan di partai uji coba melawan tim kuat sekalipun. Begitu juga sebaliknya, penampilan Argentina amburadul jika Messi bermain tidak efektif seperti Piala Dunia 2010 dan Copa America 2011 lalu.

Kunci moncernya penampilan lini depan justru datang dari Fernando Gago, pemain yang tak begitu beruntung di Eropa. Duetnya bersama Ever Banega menjadi bagian terpenting dalam lancarnya arus suplai ke arah striker dan menjaga kedalaman. Sabella juga tidak ditimpa masalah dengan pemilihan siapa pendamping Messi. Mulai dari Higuain, Aguero, Lavezzi bahkan Palacio mampu menunjukan kerja sama yang padu. Tampak wajar jika Higuain dan Aguerro yang berpeluang paling besar menjadi partner Messi melihat sedang on perform-nya kedua pemain tersebut di level klub.

Jika lini tengah dan depan tidak memiliki masalah, lain hal-nya dengan lini belakang dan kiper. PR besar menanti Sabella terutama untuk sektor penjaga gawang. Inilah masalah klasik Argentina yang belum terpecahkan hingga saat ini. Bayangkan, tidak ada satu nama kuat pun untuk pos benteng terakhir ini. Sergio Romero menjadi andalan yang ironisnya hanyalah kiper pelapis Danijel Subasic di klubnya Monaco.

Setali tiga uang dengan lini pertahanan. Alenjandro Sabella harus berpikir keras tentang format apa yang akan digunakannya di PD 2014 nanti. Apakah menggunakan skema 3 atau 4 bek. Jika memilih 4 bek Sabella akan kesulitan menemukan 2 wing back top untuk mengisi slot 4 bek tersebut. Pablo Zabaleta sebagai pemain paling berpengalaman di posisi itu tidak memberikan dampak signifikan terhadap permainan tim selama kualifikasi. Jika memang terpaksa, sebenarnya Sabella mempunyai opsi pada diri Zanetti jika ingin membujuknya untuk kembali memperkuat timnas. Opsi lainnya adalah menggunakan skema 3 bek yang sudah dipraktekan di banyak pertandingan kualifikasi. Namun skema itu juga terlihat biasa-biasa saja. Argentina memang tidak mempunyai opsi pertahan semegah strikernya. Penentuan starting eleven untuk pos bek masih belum bisa ditentukan sehingga penampilan Ezequiel Garay, Fabricio Coloccini, Nicolas Otamendi, Hugo Campagnaro, Facundo Roncaglia dan Lucas Orban musim ini di klubnya masing-masing akan sangat menentukan posisi mereka di Piala Dunia nanti.

Kita lihat saja apa yang bisa dilakukan Sabella di 2 pos yang tidak boleh terjadi kesalahan sekecil apapun ini.

2. Belanda : Apakah Yakin dengan Skuad Muda ?

Belanda

Belanda

Selain Piala Dunia 2002, untuk edisi selanjutnya Belanda hampir selalu mudah untuk lolos dari babak kualifikasi Piala Eropa dan Piala Dunia, namun selalu gagal di babak utama seperti cerita-cerita sebelumnya. Padahal di banyak generasinya Belanda mempunyai bintang-bintang hebat dalam skuadnya. Terakhir tentu generasi Sneijder cs. yang pada gelaran Piala Dunia 2010 lalu berhasil meraih final dibawah pelatih Bert van Marwijk sebelum akhirnya kalah dari Spanyol. pencapaian yang sebenarnya pantas mengingat kekuatan skuad Oranje 2010 lalu dihuni 3 nama yang menjadi pusat perhatian karena penampilannya di level klub, Sneijder, Robben dan Van Persie.

Kemunduran generasi Van Persie cs dimulai pada gelaran Euro 2012 Polandia-Ukraina lalu. Lagi-lagi, Belanda tampil begitu superior pada babak penyisihan dengan meraup 27 poin dari 30 poin maksimal. Selanjutnya apa yang terjadi pada putaran final adalah malapetaka. Tergabung di Grup B yang merupakan grup maut bersama Jerman, Portugal dan Denmark, Belanda dipaksa pulang lebih awal dengan cara yang memalukan. 3 partai dilalui tanpa meraup 1 poin pun alias 100% kalah.

Perubahan tak mungkin dihindarkan. Tongkat kepelatihan dari van Marwijk diserahkan kepada Louis van Gaal. Perubahan yang dilakukan van Gaal pun tidak main-main. Sneijder, Van der Vaart dan Van Bomel tidak lagi menjadi kunci permainan. van Gaal melakukan kebiasaannya untuk percaya kepada pemain muda. Tulang punggung Belanda saat ini dijejali pemain-pemain lokal Erendivisi seperti Siem de Jong, Adam Maher, Daryl Janmaat, atau Luciano Narsingh yang belum berpengalaman di level Eropa. Sektor pengalaman Belanda kemungkinan besar akan diisi oleh Kevin Strootman, Nigel de Jong serta 2 bintang utama yang berada dalam puncak karir, Robin van Persie dan Arjen Robben.

Belanda mempunyai pengalaman yang buruk sepanjang keikut-sertaannya di Piala Dunia. 3 kali berhasil menembus final, 3 kali pula mereka gagal. Apakah ini berhubungan dengan mental atau nasib ? saya tidak tahu. Yang pasti,  di 3 generasi yang berhasil menembus final, Belanda mempunyai generasi pemain bintang pada diri Johan Cryff, Johan Neeskens, Rob Resenbrink, Arjen Robben, Wesley Sneijder sampai Robin van Persie.

Saat ini dengan mayoritas skuad yang masih muda, Belanda kembali menunjukan kebiasaannya dengan tetap tampil superior di babak penyisihan Piala Dunia 2014. Meraih 28 poin dari total 30 disertai rekor mencetak gol hampir 2 kali lipat dari runner-up adalah penampilan tak bercelah Belanda di penyisihan Grup D.

Belanda terlalu sering disebut sebagai juara tanpa mahkota. Dengan pemain-pemain yang menjanjikan 3 kali sudah Belanda gagal di perjuangan terakhir merebut Piala Dunia. Saat ini dengan mengandalkan potensi pemain muda, tradisi Belanda yang kuat dalam penyisihan masih bisa diteruskan, sekarang tinggal mencoba menghilangkan tradisi keok di babak utama.

3. Brazil : Lawan Terberat adalah Publik

Brazil

Brazil

Apa yang bisa kita lihat kekurangan dari Brazil ? Kiper dan bek seperti masalah klasik Brazil ? Saya rasa tidak, Julio Cesar masih tangguh di bawah mistar, lalu ada David Luiz, Thiago Silva, Dante atau Marquinhos yang akan menjadi jaminan kuatnya lini belakang. Skuad Brazil begitu lengkap dan dalam. Felipe Scolari mempunyai banyak opsi di setiap lininya dan dia sudah mematenkan skuadnya bahkan untuk starting eleven. Tidak hanya pemain intinya, pemain cadangan mereka juga siap diturunkan kapanpun diminta. Atau jika ada yang cidera sekalipun, Scolari tinggal memilih diantara Kaka’, Ronaldinho, Juan Jesus, Miranda, Maicon, Coutinho, Pato, Robinho, dan pemain-pemain lainnya.

Kematangan starting eleven Brazil akan terus diasah hingga tiba pertarungan sesungguhnya di Piala Dunia 2014 nanti. Sejauh ini program itu cukup berhasil. Brazil mampu berbicaranya banyak bahkan saat melawan tim-tim raksasa meskipun berisikan skuad yang tergolong muda. Lini tengah dipimpin Oscar dan lini depan digawangi Neymar dengan usia yang masih belia. Brazil sudah bisa melupakan generasi Ronaldinho atau Kaka’. Brazil memang beruntung diberkahi talenta-talenta hebat sepanjang tahunnya.

Keyakinan akan skuad ini semakin mekar jika melihat begitu perkasanya Brazil di tahun 2013 dan terlihat mereka begitu siap menghadapi Piala Dunia di rumahnya sendiri. Piala Konfederasi yang dijuluki sebagai “Piala Dunia Mini” bisa ditaklukan Brazil dengan streak 100% kemenangan. Spanyol sebagai tim terkuat dunia dalam 6 tahun terakhir bahkan dihajar 3-0 saat final Confederation Cup 2013 lalu. 13 kemenangan, 4 kali draw, dan hanya 2 kekalahan menjadi rekor menjajikan Brazil selama 1 tahun kalender 2013. Apa ada yang berani menempatkan Brazil sebagai non-unggulan ?

Lalu, apa masalah Brazil ? Beban diluar teknis namun pengaruhnya akan sangat besar, ekspektasi publik Brazil yang hanya menginginkan 1 hal, juara ! Brazil memang sudah 5 kali menjadi juara dunia, namun tidak sekalipun diraihnya saat bertindak sebagai tuan rumah. Peluang itu ada kala 1950 saat Brazil menjadi tuan rumah. Kesempatan juara dirumah sendiri gagal saat dipartai penentuan dipermalukan Uruguay meskipun sempat unggul terlebih dahulu. Publik Samba masih mengenang kejadian itu dengan sebutan Tragedi Maracanazzo.

Kematangan skuad Brazil harus tetap diperhatikan. Kita bisa melihat kembali perjalanan skuad Brazil pada Piala Dunia 2010 lalu yang juga terlihat menjanjikan dalam masa persiapannya. Persis seperti saat ini, mereka mampu memenangi Piala Konfederasi 2009, juara Coppa America 2007 dan memuncaki kualifikasi PD zona Amerika Latin. Tapi faktanya mereka akhirnya gagal juga di PD 2010 Afsel lalu. Inilah yang dicemaskan warga Brazil seluruhnya.

Justru yang menjadi catatan disini, saat Brazil berhasil membawa pulang gelar juara dunia ke-5 di Korsel-Japan 2002 lalu, perjalanan Tim Samba tidak semulus Piala Dunia edisi-edisi berikutnya. Di edisi 2002 lalu mereka harus melewati play-off terlebih dahulu sebelum mengikuti putaran final. Stock bintang mereka juga tidak sebanyak biasanya. Andalan Brazil saat itu “hanya” 3R (Rivaldo, Ronaldinho, dan Ronaldo). Rivaldo sudah mulai menua, Ronaldo baru sembuh dari cidera panjang sedangkan Ronaldinho adalah bintang baru yang belum dikenal. Hasilnya ? Brazil bablas menjadi juara dengan 100% kemenangan. Tuah inilah yang diharapkan publik Brazil kepada Luis Felipe Scolari, pelatih yang sama saat membawa Brazil juara dunia 2002.

Dengan hasil yang “biasa-biasa” saja dalam 2 edisi Piala Dunia terakhir (keduanya mencapai perempat-final), mau tak mau, suka tidak suka, publik Brazil tidak menerima hasil apapun dengan alasan apapun selain juara dunia.

4. Inggris : Masih Inggris yang “Biasanya”

Inggris

Inggris

Publik Inggris masih dan akan terus mengingat generasi 1966 selama timnas Inggris belum mengangkat trophy Piala Dunia yang kedua. Itu wajar, sebagai negara yang mengklaim sebagai kampung halaman sepak bola modern tapi sudah tidak meraih gelar tertinggi dunia selama 47 tahun. Prestasi terbaik mereka di Piala Dunia setelah 1966 hanyalah perempat-final.

Dengan kualitas liga lokal terbaik didunia, Inggris sepantasnya memiliki timnas yang kuat. Karena muara kompetisi nasional adalah prestasi tim nasional. Yang terjadi justru sebaliknya, publik balik menghujat sistem liga mereka yang begitu terbuka kepada pemain asing sehingga mempersempit peluang pemain asli Inggris untuk mentas.

Berbagai cara sudah dilakukan Inggris untuk berjaya, seperti melanggar tradisi dengan mendatangkan pelatih asing bahkan Capello dari Itali dimana gaya sepak bola Itali dibenci oleh publik Inggris karena permainannya yang membosankan. Tetap saja, hasil yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Penampilan Inggris tetap biasa-biasa saja dan monoton. Lalu sekarang apa masalahnya ? tidak mungkin jika alasan tersebut adalah opsi pemain kecuali untuk pos kiper. Roy Hodgson memiliki stok melimpah untuk posisi bek, gelandang dan striker. Pemain-pemain yang ada juga bukan pemain sembarangan.

Ini seperti pepatah tikus mati di landang gandum, terutama untuk lini tengah. Kuartet Gerard, Lampard, Carrick dan Wilshere seperti pemain medioker jika diturunkan bersama. Taktik ini gagal dan terbaca oleh tim lawan. 4 gelandang tersebut memiliki gaya permainan yang sama sehingga hasilnya pasti akan minim kreatifitas karena tidak ada pembagian tugas yang jelas siapa yang menjadi jendral, siapa yang melebar dan siapa yang lebih bertahan atau menyerang. Formasi ini selalu gagal untuk memegang kendali permainan, namun tetap saja Hogdson tidak berani melakukan perubahan. Padahal opsi lain yang pantas dicoba juga banyak seperti memainkan Andros Townsend, Ashley Young atau Adam Lallana yang mempunyai kemampuan dribbling dan memberikan bantuan dari sisi lapangan.

Sekarang, apakah Inggris terbantu dengan penampilan lini belakangnya ? Maaf saya belum melihat bukti itu. Hogdson masih belum bisa menentukan siapa yang terbaik diantara Gary Cahill, Michael Dawson, Kyle Walker, Chris Smalling atau Phil Jagielka setelah John Terry dan Rio Ferdinand pensiun dari timnas. Barisan pertahanan Inggris terlalu sering ceroboh dalam menghadapi serangan balik, umpan-umpan silang, maupun kondisi satu lawan satu. Sebagai buktinya silahkan lihat di Youtube ketika Inggris takluk dari Chili pada laga persahabatan November 2013 lalu. Pun begitu hal-nya dengan posisi penjaga gawang. Hart tidak tampil menjanjikan musim ini namun dialah satu-satunya pilihan yang ada. Seandainya Hart lahir di Spanyol atau Itali yang mempunyai banyak kiper-kiper handal, saya yakin dia tidak akan menjadi opsi pertama.

Barisan striker mungkin satu-satunya lini yang tampil lebih menawan dengan mengandalkan duet Daniel Sturridge dan Wayne Rooney dengan pelapis Wellbeck atau Walcott dengan opsi lain. Duet ini terbukti cukup efektif selama babak penyisihan meskipun belum mampu membuat lega pendukung Three Lions.

Jujur saja, ketika saya menonton Inggris bermain melawan tim-tim besar, kekalahan seperti hal yang wajar. Silahkan cari statistik Inggris ketika bertanding melawan tim raksasa dalam 3 tahun terakhir, saya yakin kemenangan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kalah atau seri sekalipun.

Jika tetap bermain biasa-biasa saja seperti ini, Inggris saya rasa tidak akan mampu menghapus kutukan perempat-final di Piala Dunia.

5. Italia : Mengatasi Pirlosentris dan Mencari Pendamping Balotelli

Itali

Italia

Italia sampai saat ini tetap dianggap sebagi tim yang sangat sulit dikalahkan, namun uniknya susah juga untuk menang. Italia seperti ditakdirkan untuk menjadi tim yang sangat kuat dalam hak taktik dan bertahan. Dengan sistem seperti itulah Itali menjadi negara tersukses kedua di dunia pada sejarah Piala Dunia.

Itali akan selalu dianggap menjadi tim kuat apapun situasinya. Publik dunia tidak memilih Itali sebagai negara yang paling diinginkan menjadi juara saat menjuarai Piala Dunia edisi 2006 lalu. Sebabnya jelas, skandal Calciopoli yang terkenal itu. Begitu pula pada gelaran Euro 2012 kemarin, tidak ada yang menempatkan Itali sebagai unggulan utama, rata-rata memilih Spanyol, Belanda atau Jerman yang mengangkat Trophy Henry Delauney. Nyatanya, mereka mampu tampil di partai puncak sebelum akhirnya kandas di tangan Spanyol.

Kekuatan Itali memang terletak pada skuad dan taktiknya. Namun perlu dicatat, Italia masih begitu tergantung kepada sosok tak tergantikan yang bernama Andrea Pirlo. Coba lihat statistik Itali tanpa Pirlo. Paling gampang kita temukan pada pergelaran Piala Konfederasi 2013 lalu. 3 kali Itali melakoni laga tanpa Pirlo dan hasilnya tanpa satupun kemenangan kecuali melalui adu pinalti saat menghadapi Uruguay. Skema terburuk inilah yang harus dipersiapkan Cesare Prandelli untuk menghadapi Piala Dunia nanti. Mengingat usia Pirlo saat ini sudah 34 tahun, usia dimana cidera sangat rentan menghampiri seorang pesepak bola apalagi yang bermain di level tinggi.

Itali harus berbenah. Karena selama 2013 ini mereka tidak tampil menjajikan apalagi ketika berjumpa tim kuat. Mereka memang selalu mampu mengimbangi permainan tim raksasa manapun dengan ciri khasnya. Tapi hasil dari kesemua laga melawan raksasa lainnya di 2013, tidak satupun berhasil dimenangkan Itali. Itu menunjukan skema penyerangan Itali masih sulit mencetak gol dan pertahanan kokoh Italia semakin diketahui kelemahannya oleh tim lawan.

Kemampuan lini depan Itali sebenarnya terbantu dengan cemerlangnya penampilan seorang sosok kontroversial bernama Balotelli. Meski berwatak bengal, sosok Balotelli akan sangat diharapkan kontribusinya sebagai goal getter Itali sepeninggal Cristian Vieri dan Luca Toni. Satu tempat sudah pasti dimiliki Super Mario. Sekarang tinggal menimbang siapa yang akan menjadi pendampingnya. El Shaarawy, Gilardino, Giovinco, Osvaldo dan Insigne sudah bergantian dicoba, namun puzzle itu kemungkinan besar akan ditemukan pada sosok Giuseppe Rossi. Sosok anak hilang yang menemukan kembali ketajamannya setelah sembuh dari cidera panjang bersama Fiorentina. Jika tetap tampil konsisten dan tidak cidera parah lagi, saya rasa satu tempat inti akan menjadi miliknya mendampingi Balotelli.

6. Jerman : Hati-Hati Gagal Lagi dan Waspada Cidera

Jerman

Jerman

Tim Spesialis Turnamen. Begitulah Jerman biasa disebut. Memang faktanya seperti itu. Hampir disemua kompetisi mayor pernah ditaklukan Jerman. Julukan ini selain karena mampu berprestasi di setiap kompetisi, Jerman juga dikenal sebagai tim yang lambat panas dan sering terseok-seok terlebih dahulu di babak penyisihan. Namun peristiwa itu tidak terjadi lagi pada Jerman setelah Piala Dunia 2002. Jerman tampak mudah-mudah saja lolos ke putaran final Piala Dunia ataupun Euro. Hasilnya pun lumayan, Jerman mampu melaju jauh di setiap turnamen major walaupun belum sampai menjadi juara.

Titik balik tersebut adalah regulasi ekstrem DFB satu dekade lalu yang mengharuskan klub untuk memakai pemain produk akademi setiap tahunnya. Dengan regulasi yang terdengar otoriter ini, arus regenerasi Jerman berjalan sangat baik, bahkan yang terbaik didunia saat ini. Jerman mampu menurunkan pemain lapis 2 dan 3 tanpa menurunkan kualitas permainan. Jika ada satu pemain yang cidera, menurun atau bahkan pensiun, Jerman terlihat mampu menggantinya dengan pelapis yang sepadan atau justru lebih baik. Joachim Low sebagai pelatih Jerman patut bersyukur atas dalam dan variatifnya opsi skuad yang dimilikinya mulai dari kiper hingga striker. Perjalanan Jerman terasa nyaman selama 2013 baik itu kualifikasi atau uji coba yang mampu diraih dengan pencapaian yang sangat baik.

Satu yang patut diwaspadai oleh Low adalah badai cidera yang mengancam. Sami Khedira kemungkinan besar belum pulih sampai kick-off Piala Dunia 2014 nanti. Keadaan ini semakin diperparah dengan masih belum fit-nya Bastian Schweinsteiger dan Ilkay Gundogan. Itu berarti Jerman kehilangan 3 gelandang bertipe sama sekaligus dan saat ini hanya mempunyai Toni Kroos sebagai pilar langganan Jerman yang mampu bermain sebagai gelandang pengatur kedalaman. Cidera Gundogan dan Schweinsteiger mungkin tidak separah seperti yang dialami Khedira, hanya memang patut dipersiapkan saja skema terburuknya karena stok gelandang bertipe sama banyak dimiliki Jerman walaupun kualitasnya belum setara 3 pemain tersebut. Jika tidak, Low bisa mendorong Philip Lahm sebagai gelandang bertahan yang fasih dimainkannya di klub.

Tekanan dan kritik publik kepada Joachim Low ternyata ada juga meskipun Jerman sudah tampil menggembirakan selama masa persiapan. Sebabnya ialah karena Low lebih memilih Per Martesacker ketimbang Matt Hummels untuk berduet dengan Jarome Boateng di jantung pertahanan. Sebenarnya siapapun yang dipilih seharusnya publik patut untuk tenang karena kualitas ketiganya sama baiknya. Apalagi jika Holger Badstuber sudah mampu merumput lagi, persaingan lini belakang Jerman akan semakin ketat yang diharapkan mampu memberikan dampak positif.

Lain halnya dengan posisi lini depan yang tampaknya sudah memiliki 3 nama pasti. 2 Striker yang merumput di Serie-A, Mario Gomez atau Miroslav Klose kemungkinan besar akan menjadi single target man diatas Max Kruse yang semakin matang. Jerman tidak perlu membawa banyak striker bertipe finisher karena taktik Jerman akan memaksimalkan lini tengah mereka yang luar biasa. Jika tidak, Jerman boleh-boleh saja mendorong Thomas Muller atau Mario Gotze untuk memainkan taktik yang belakangan mulai populer dengan nama false-nine.

Sekarang Jerman hanya harus berkonsentrasi 100% kepada Piala Dunia terutama setelah musim reguler klub telah berakhir. Jerman patut mempersiapkan mental agar tidak lagi gagal di semifinal atau final seperti beberapa turnamen major belakangan. Hanya itu saja, overall saya rasa Jerman sudah tidak sabar memulai Piala Dunia.

7. Portugal : Masalahnya Hanya Ada Ronaldo

Portugal

Portugal

Sebelum era Ronaldo, Portugal lebih dulu dikenal dengan generasi emasnya yang dipimpin oleh Luis Figo dan Rui Costa. Memang, antara era Ronaldo dan generasi emas pimpinan Figo pernah bahu-membahu digelaran Euro 2004 Portugal lalu. Hasilnya mereka mampu mencapai final sebelum dikandaskan perlawanan Yunani yang tampil mengejutkan. Tapi pada masa itu, potensi Ronaldo belumlah sehebat saat ini yang menjadi puncak karirnya. Jika saja generasi emas Figo cs berada pada satu angkatan dengan Ronaldo, mungkin Portugal tidak akan mengalami masalah seperti saat ini. Nah, memang apa masalah Portugal ? Ketergantungan yang begitu tinggi kepada CR7.

Paulo Bento bisa saja mengatakan bahwa Portugal lebih dari seorang Ronaldo. Tapi fakta berbicara lain. Play-off yang dilalui Portugal untuk lolos babak utama PD 2014 adalah contoh paling jelas. Jika kita berandai-andai Ronaldo cidera saat play-off melawan Swedia atau tampil dibawah form, apakah masih mungkin saat ini Portugal berada di Grup G babak utama Piala Dunia 2014 ?

Sekarang pilihannya ada 2, Ronaldo menjadi target man atau winger ? Sokongan dari lini tengah sudah pasti ada dari Raul Meireles, Miguel Veloso dan Joao Moutinho yang sudah mengunci lini tengah. Ketiga pemain ini bertipe murni seorang gelandang yang mampu mengusai bola dengan baik dan bagus dalam melayani lini depan, namun tidak ahli untuk urusan mencetak gol. Sehingga berharap gol dari lini kedua sulit dilakukan.

Jika Bento menetapkan Ronaldo sebagai seorang target man, pendamping Ronaldo harus segera ditentukan. Nani memang menjadi opsi terbaik mendampingi Ronaldo, namun dari dulu permasalahan pemain ini adalah individualisme dan egonya yang kelewatan. Bisa-bisa dia mengacaukan skema memberikan bola kepada Ronaldo untuk diselesaikan sang superstar. Pilihan lainnya mungkin Fabio Coentrao bisa didorong lebih kedepan. Taktik lainnya bisa dengan memaksakan dengan umpan-umpan direct jauh dari dari bek langsung menuju Ronaldo, namun taktik ini rentan gagal ketika Ronaldo ditempel ketat minimal oleh 2 pemain.

Jikalau opsi menjadikan Ronaldo seorang winger yang dipilih, sekarang kita balik, siapa yang akan menyelsaikan tugas yang sudah dilakukan Ronaldo untuk menjadi gol ? Helder Postiga atau Hugo Almeida bukanlah jaminan sukses akan beresnya tugas penyelesaian akhir setelah lepas dari kaki Ronaldo. Portugal tetap berkutat dengan masalah klasiknya yang tidak mempunyai striker berkelas.

Tidak sampai disitu saja, Portugal juga mempunyai celah di benteng pertahanan. Duet Pepe dan Bruno Alves memang sudah menjadi nama pasti. Kedua pemain ini mempunyai track-record yang memuaskan di level klub dan bisa membuat tenang fans Portugal dengan predikat 2 palang pintu itu. Namun perlu dicatat, fakta dilapangan berbicara jika Portugal mampu dibobol 2 gol oleh Irlandia Utara dan lebih-lebih kecolongan 1 gol dari tim lemah, Luxemburg. Statistik ini menjadi lampu kuning bagi Paulo Bento.

Kita berharap saja Ronaldo tidak mengalami cidera apa-apa saat kick-off PD 2014 nanti. Jika musibah itu terjadi, Portugal harus siap menjadi kartu mati World Cup 2014 nanti.

8. Prancis : Mencari Jendral Sebaik Zidane

Prancis

Prancis

Prancis adalah tim roller coster. Semenjak menjuarai Piala Dunia 1998 dirumahnya sendiri, Prancis tampil begitu mengecewakan di 2002 namun kembali tampil hebat di Piala Dunia 2006, lalu kembali menurun di 2010. Skuad Prancis era kini memang masih bisa dibilang mempunyai stok bintang yang cukup walau belum sebagus dan selengkap skuad emas dekade 98-2006. Jika selama dekade 98-2006 mereka dipimpin sang maestro penuh kharisma Zinedine Zidane, Piala Dunia 2014 ini Prancis meletakkan harapannya di pundak Frank Ribery. Prancis juga masih punya banyak pemain potensial lainnya pada diri Karim Benzema, Samir Nasri atau Paul Pogba yang menyita perhatian akhir-akhir ini contohnya.

Penampilan Prancis selama kualifikasi sama sekali tidak menujukan bahwa mereka adalah tim yang mapan. Harapan publik pada Karim Benzema lebih sering menghasilkan kekecewaan, begitu pula penampilan Nasri yang tidak kunjung menemukan standar terbaiknya selama bermain untuk timnas. Masalah Didier Deschamp semakin pelik lantaran penampilan Frank Ribery tidak cukup maksimal pada awal-awal kualifikasi, baru di partai-partai penentuan Ribery mampu menampilkan performa kelas dunianya seperti yang diperlihatkannya di Bayern Munich. Jadilah akhirnya Prancis dikangkangi Spanyol dalam kualifikasi Grup Q dan harus bersusah payah melewati hadangan Ukraina dalam pertandingan dramatis dan kontroversial.

Semenjak kehilangan Zidane, Prancis seperti tidak mempunyai ruh permainan. Coba saja lihat di 2 kualifikasi Piala Dunia terakhir. Di 2010 lalu, Prancis dikutuk dunia karena lolos lewat gol kontroversial Henry yang menggunakan tangannya saat melawat ke kandang Irlandia. Kejadian ini terulang saat melawan Ukrainan lalu, gol pembuka Benzema terlihat jelas dia berdiri dalam posisi off-side. Ribery memang bisa menggantikan sosok kebintangan Zidane, namun Ribery bukanlah seorang pengatur irama permainan dan berkarakter pemimpin. Harapan untuk menemukan sosok pengganti Zidane sebenarnya pernah ada pada diri Yoann Gourcuff, namun pemain ini tidak bermental baik karena permainannya menurun tajam setelah tampil memukau pada periode 2008/09.

Masalah Prancis tidak berhenti sampai disitu, Deschamps juga harus cepat memutuskan susunan pasti skuadnya terutama untuk lini belakang. Dalam leg pertama melawan Ukraina, duet yang dipilih adalah Eric Abidal dan Laurent Koscielny. Kedua pemain ini terbukti gagal dalam pertandingan tersebut. Pada leg kedua yang menjadi partai penentuan, Deschamps memutuskan berjudi dengan menyerahkan pos dua bek sentral kepada Raphael Varane dan Mamadou Sakho. Prancis memang berhasil menang besar, namun lini belakang tidak mendapatkan tekanan yang hebat karena Ukraina memilih pasif bertahan. Apalagi penampilan Evra tidak banyak membantu sebagai salah satu senior ditubuh tim.

Deschamps tidak punya banyak waktu untuk melakukan eksperimen terhadap formasi baku yang akan digunakannya di Brazil nanti. Selain lini belakang yang masih memusingkan Deschamps, performa lini depan juga belum bisa membuat sang mantan kapten the winning team Prancis tenang. Penampilan Benzema begitu labil, opsi lainnya ada pada diri bomber Arsenal Olivier Giroud, namun tidak adil juga jika Giroud dibilang bermain lebih baik dari Benzema.

Kepemimpinan Deschamps sebagai kapten yang memimpin Prancis Juara Dunia 1998 adalah harapan terbesar bagi Prancis untuk tampil gemilang di Brazil nanti. Track record-nya sebagai pelatih pun mendukung. Monaco bisa menjadi salah satu representatif terbaik. Klub antah berantah tersebut dibawanya melaju jauh sampai ke final Liga Champions 2004 dengan skuad yang lebih sederhana dari skuad Prancis saat ini.

Asal 1 syarat dipenuhi, yaitu menyatukan Prancis kembali menjadi tim yang solid seperti saat dia masih aktif bermain.

9. Spanyol : Kelemahan Mulai Dibaca Lawan

Spanyol

Spanyol

Spanyol seperti yang sering saya bicarakan adalah penguasa dunia persepak-bolaan selama 6 tahun terakhir. Sejak menjuarai Euro 2008 dibawah asuhan Aragones, Spanyol menjelma menjadi tim yang begitu perkasa hingga menguasai 3 gelar mayor beruntun (2 Piala Euro 2008-2012 serta 1 Piala Dunia 2010 ). Perjalanan Spanyol pada kualifikasi Piala Dunia zona Eropa grup I lalu terbilang mulus. Mereka amblas menjadi juara grup melewati hadangan Prancis dengan rekor menawan 6 kali menang dan 2 kali seri. Produktivitas selama kualfiikasi terbilang tinggi dengan mencetak 14 gol dan hanya kebobolan 2 gol.

Seharusnya dengan pencapaian itu tidak ada lagi pertanyaan tentang kesiapan Spanyol menghadapi PD 2014, namun keraguan tersebut tidak bisa dihindari setelah melihat hasil dari Piala Konfederasi 2013 lalu. Penampilan Spanyol tidak begitu menjajikan dalam 2 pertandingan terakhir di gelaran “piala dunia mini” tersebut. Sebelum menembus final, Spanyol gagal mengalahkan Itali dalam open play (hanya menang adu pinalti). Yang lebih mengenaskan tentu saja momen final dimana Spanyol dipencundangi Brazil 3 gol tanpa balas.

Sebagai juara bertahan dan tim terkuat di dunia, Spanyol dipastikan akan menjadi target prestis untuk dikalahkan tim manapun di dunia ini. Untuk mampu mengalahkan Spanyol, semua tim pasti akan mempelajari kelemahan Spanyol secara mendetail. Hasilnya mulai terlihat, selain hasil melawan Brazil, kekalahan saat menghadapi Afrika Selatan pada ujicoba November 2013 memberikan gambaran tiki-taka Spanyol dalam pengawasan ketat untuk diruntuhkan. Jujur saja, dengan komposisi pemain yang nyaris sama selama menjalani periode emasnya, cepat atau lambat skema permainan Spanyol akan bisa ditemukan kelemahannya meskipun belum tentu berhasil.

Kekalahan memalukan Barcelona atas Bayern Munich dengan aggregat besar pada gelaran Liga Champions 2012/13 saya anggap menjadi lubang untuk masuk mengetahui kelemahan Spanyol. Semua pasti tahu pondasi timnas Spanyol adalah FC Barcelona, mengetahui cara mengalahkan Barcelona berarti juga mengetahui cara mengalahkan Spanyol. Tiki-taka begitu kesulitan untuk menghadapi permainan pragmatis yang mengandalkan fisik dan serangan balik cepat.

Permasalahan pelik El Matador juga ada pada pemilihan pos penjaga gawang. Posisi yang menjadi milik Iker Casillas dalam 11 tahun terakhir mungkin akan digoyang melihat fakta Santo Iker tidak lagi menjadi pilihan utama Real Madrid dalam 1,5 tahun terakhir. Sejauh yang saya lihat, Spanyol akan tetap mengandalkan pemain kunci yang sama dalam 4 tahun terakhir ini.

Kabar baiknya, Spanyol kedatangan striker kuat Diego Costa yang lebih memilih membela Spanyol dibandingkan Brazil. Striker Atletico Madrid bisa menjadi pilihan selain taktik false nine ala Spanyol yang membawa mereka menjuarai Euro 2012 lalu. Jikalau David Villa juga kembali dipanggil dalam skuad yang dibawa ke Brazil, saya rasa taktik false nine kemungkinan besar tidak akan digunakan lagi ditambah penampilan Fabregas yang angin-anginan musim ini.

Kita lihat saja.

Kesimpulan

Fakta berbicara, Piala Dunia 2010 lalu melahirkan juara dunia baru. 1 Mitos telah terpecahkan dimana sebelum Piala Dunia Afsel 2010, tidak ada tim eropa yang mampu keluar sebagai pemenang jika tuan rumah bukan negara Eropa. Spanyol menjawab semua tantangan tersebut. Nah, sekarang Piala Dunia diadakan di Brazil, sebuah negara super power sepak bola yang kembali terletak di luar Eropa. Apakah sudi Brazil sebagai tuan rumah ditelikung kembali dirumahnya sendiri ? Apa tidak malu jika Argentina atau Uruguay memberikan begitu saja gelar prestis ini kepada negara Eropa ? Masih banyak cerita-cerita lain di Piala Dunia kali ini yang membuatnya pantas ditunggu.

Diantara 9 tim, hanya Portugal dan Belanda yang belum mampu mengangkat trophy Piala Dunia sekalipun. Lalu apakah akan muncul juara dunia baru lagi ? Saya tidak tahu, lihat saja Juni 2014 nanti. Memang sangat disayangkan nama-nama besar seperti Gareth Bale, Ibrahimovic atau Lewandowski dipastikan hanya menjadi penonton. Bahkan Zlatan dengan entengnya mengatakan “Piala Dunia tidak menarik lagi ditunggu karena karena saya tidak ada disana“. Saya rasa sah-sah saja Zlatan mengatakan hal seperti itu karena rasa frustasinya, apalagi dia memang orang yang sering membuat pernyataan yang kontroversial. Piala Dunia saya pastikan akan tetap menarik, 2 pemain terbaik didunia, Messi dan Ronaldo yang ikut bertarung di 2014 nanti sudah cukup menjadi bukti.

Piala Dunia selalu menghadirkan cerita bahagia, kekecewaan maupun kontroversial. Event ini adalah event dengan level AAA dan dilaksanakan 4 tahun sekali. Alasan itulah yang membuatnya begitu dirindukan semua pecinta bola didunia, bahkan untuk Korea Utara yang tertutup sekalipun.

Apa yang saya inginkan di Piala Dunia sebenarnya simpel namun rasanya sangat jauh untuk terealisasi. Yaitu kapan kita bisa mendukung negara kita sendiri Indonesia, bukan negara-negara lainnya. Ya, di Piala Dunia kita pasti mempunyai tim favorit, entah itu Itali, Spanyol, Brazil, Jerman, dll.

Lalu kapan kita akan mendukung timnas kita sendiri di Piala Dunia ? Sekali lagi, kita harus sabar.

Silahkan jika teman-teman berkenan untuk melakukan analisa sesuai topik ini di form komentar. Terima kasih sudah mampir untuk membaca.

Salam virfast.com

Referensi : wikipedia, goal, fifa.com

468 ad

5 Comments

  1. Pertamax
    saya dukung Spanyol

  2. analisa yang oke gan
    kita semua berharap suatu saat nanti timnas kita sendiri bisa kita dukung di Piala Dunia

    Jayalah garudaku

  3. analisa yg lumayan buat team jerman
    saya dukung jerman broo di piala dunia.

  4. gue ttp percaya spain juara

  5. Jerman donk
    Spanyol mahudh habis waktunya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>