Pro atau tidak, analisa kita bisa lebih tajam

Kekuatan Harapan Timnas U-19

Timnas U-19

Saya sudah sempat membahas Timnas U-19 kita yang sedang naik daun ini di catatan saya sebelumnya. Sekarang, saya akan coba membahasnya lagi dan berharap rekan-rekan sekalian tidak bosan membacanya. Saya termasuk orang yang paling getol mengikuti perkembangan Timnas U-19 dan berharap-harap cemas Evan Dimas Cs mampu terus berkembang bahkan sampai menjadi tulang punggung Timnas senior kelak. Baik anda maupun saya yang mengamati perkembangan putra-putra terbaik bangsa akhir-akhir ini begitu dimanjakan dengan agenda timnas U-19 yang sedang melakukan tour keliling Indonesia dan beruji coba dengan beberapa klub lokal nasional atau tim Pra-PON Provinsi. Rencananya program ini dilangsungkan dari tanggal 3 Februari dengan  PSS Sleman sebagai lawan perdana sampai nanti berakhir tanggal 17 Maret di Tengarong, untuk menutupnya dengan meladeni tantangan Mitra Kukar.

Saya dibawa untuk mencermati secara detail perkembangan mereka dengan pengharapan yang saya yakin kurang lebih sama seperti anda, “sudah siapkah timnas kita menantang Piala Asia 2014 nanti ?” Jepang, China, Iran, Arab Saudi atau juga bahkan Korea Selatan adalah negara-negara kuat yang menantikan perlawanan Indonesia. Kemenangan atas Korsel dan keberhasilan kita memuncaki klasemen kualifikasi, jangan kira negara-negara kuat tadi tidak memperhatikan perkembangan pesat sepak bola yang kita tunjukan di kualifikasi lalu. Seluruh Asia tahu dan mengerti bagaimana kuatnya Korea Selatan dan ketika ada tim kuda hitam seperti Indonesia berhasil menaklukannya, mau tidak mau mereka akan mempelajari dan mewaspadai Indonesia lebih dari sebelumnya.

Setidaknya sampai artikel ini diturunkan, sudah 3 kali Timnas U-19 gagal meraih kemenangan walaupun belum sampai kalah. Sampai pertandingan  terakhir melawan Persewangi berarti kita mampu mengoleksi 7 kemenangan. Hasil yang sangat menarik, mengingat lawan-lawan Timnas U-19 sebagian besar mempunyai golongan usia diatas 19 tahun. Dibalik itu, dipandang dari hasil akhir pertandingan, faktanya Timnas U-19 selalu kesulitan untuk menang lebih dari 2 gol. Tidak jarang kita malah tertekan sampai tertinggal terlebih dulu, ketika menghadapi Persijap contohnya. Walau, disisi lainnya kita hampir selalu mampu mengontrol permainan. Hasil yang menarik kan ?

Uji coba tetaplah ujicoba, dimana hasil akhir bukanlah target yang dicari. Disinilah sang pelatih akan mendapatkan informasi berharga yang tidak akan bisa didapatkan hanya dari latihan. Nah, kita sebagai masyarakat gilbol (gila bola) Indonesia dengan  kadar nasionalisme tinggi, tanpa aba-aba dengan senang hati dan tanpa dibayar akan mencermati setiap perkembangan Timnas Garuda Muda. Dimana kelebihannya, dimana kekurangannya, apa yang dibutuhkan, sampai bagaimana seharusnya timnas bermain dan formasi apa yang cocok untuk mereka. Momen Timnas U-19 Indonesia Tour kali ini adalah waktu yang tepat untuk menganalisis perkembangan Timnas muda kebanggan bangsa tersebut.

Apapun hasil analisa kita, tujuannya pasti satu. Apalagi kalau tidak demi kejayaan Garuda Muda.

Kekuatan

Gaya Permainan, Fisik dan Kepercayaan Diri

Kekuatan terbesar yang menyebabkan Timnas U-19 mampu berbicara banyak terletak pada kepercayaan diri pemainnya dalam mengusai bola. Situasi yang begitu jarang kita lihat dalam permainan Indonesia di semua tingkatan umur. Bukankah selama ini gaya yang kita lihat selalu sama ? Apalagi kalau bukan long direct pass (umpan lambung) menuju striker. Semua kesal, termasuk pelatih yang memang tidak pernah mengintruksikan anak-anaknya memainkan umpan-umpan panjang ke depan.

Pelatih sadar, pemain apalagi (karena mereka yang mempraktekan). Kelemahan alamiah Indonesia adalah postur tubuh. Adalah bodoh jika mengandalkan taktik long direct pass apalagi jika bertemu lawan dengan postur yang lebih kokoh. Tapi toh tetap saja dalam prakteknya di lapangan seluruh komponen timnas latah memainkan gaya permainan umpan-umpan panjang seperti tradisi sebelum-sebelumnya.

Penyebabnya apalagi kalau bukan kemampuan pemain, terutama gelandang Timnas yang tidak terlalu baik dalam mengusai bola. Ketika bola berhasil dikuasai, jika tidak direbut lawan, bola akan buru-buru dilepas yang tak jarang salah sasaran. Bagaimana karakter umpan panjang ini terbentuk, bisa kita kembalikan lagi kepada kompetisi. Bukankah hampir semua klub ISL menggunakan jasa striker asing selama bertahun-tahun ? Wajar taktik longpass tertanam kuat di benak seluruh pemain karena terbiasa menyerahkan tanggung jawab mencetak gol kepada striker asing yang begitu diandalkan.

Pemandangan kontras bisa kita temukan ketika skuad asuhan Indra Sjafrie bermain. Umpan-umpan pendek dengan kombinasi umpan terobosan kepada pemain lini depan benar-benar mengekploitasi anugrah Tuhan yang terbesar untuk pemain Indonesia, kecepatan. Lihat bagaimana kuatnya trio lini tengah Garuda Muda dalam mempertahankan dan memainkan bola meskipun mendapat pressure dari pemain lawan. Hargianto dan Zulfiandi begitu tenang ketika mengusai bola, lebih-lebih Evan Dimas yang memang pada dasarnya memiliki bakat spesial, bola begitu sulit direbut dari kakinya.

Hebatnya, ketika berlangsung kualifikasi Piala Asia di Sidoarjo lalu, Indonesia mampu mencatat 3,453 operan dan 2,775 passing dilakukan dengan tepat atau rasio keberhasilannya mencapai 79 persen. Rata-rata 600 operan tiap pertandingannya atau hampir 2 kali lipat dari rata-rata operan dalam laga ISL yang hanya mengasilkan 300 passing dalam setiap laganya. Statistik ini membuktikan bahwa Timnas U-19 kita kali ini memang jauh berbeda dari “kebiasaan” gaya permaianan Indonesia sebelum-sebelumnya.

Semua pemain memiliki kemampuan untuk melakukan umpan-umpan pendek meski dengan jarak rapat dan lawan melakukan marking ketat. Ketika datang kesempatan, dengan cepat para gelandang akan melepaskan umpan diagonal ke arah luar atau biasa disebut true pass memanfaatkan kekuatan penyerangan Timnas U-19 yang bertumpu pada winger. Skema inilah yang disebut skema pe-pe-pa (pendek-pendek-panjang) khas Indra Sjafrie.

Indra Sjafrie begitu cermat memaksimalkan kelebihan pemain Indonesia yang terletak pada kecepatannya. Indonesia hampir selalu dianugrahi potensi yang mampu bersaing untuk level Asia sekalipun, anugrah itu ada pada kiper dan winger. Kemampuan Ravi Murdianto mungkin hanya soal waktu saja sampai nanti mampu menjadi kiper no.1 timnas senior yang saat ini diperankan dengan baik oleh Kurnia Meiga atau Made Wirawan, asalkan dengan catatan penampilannya konsisten.

Ilham Udin Armaiyn, Maldini Pali, Yabes Roni dan Muchlis Hadi mempunyai skill dan kecepatan yang terlihat spesial. Merekalah generasi penerus atau bahkan mampu melebihi kemapanan para winger nasional seperti Ellie Aiboy, M. Ridwan, Titus Bonai,Budi Sudarsono, Andik Vermansyah atau Boaz Salossa. Kemampuan mereka dalam melewati lawan patut diacungi jempol. Korea Selatan saja dibuat kerepotan dengan kecepatan Maldini Pali di sisi kanan, Ilham Udin dari sisi kiri dan tusukan Muchlis dari tengah.

Salah satu metode latihan fisik Timnas U-19

Intinya ada di fisik dan kepercayaan diri. Permaianan sepak bola adalah permainan fisik. 90 menit bukan waktu yang sebentar untuk berlari di lapangan yang panjangnya lebih dari 100 meter. Ketika fisik menurun, tidak ada skill yang bisa dilakukan. Apalgi jika berbicara masalah mental. Alasan mengapa pemain-pemain timnas sebelumnya gemar melepas umpan terburu-buru kedepan dan sering kehilangan bola adalah masalah mental, kepercayaan diri. Bukan masalah skill, tapi memang pemain kita yang tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup untuk mengusai bola dengan baik. Kita bisa kok menjadi raksasa, kita tim besar. Mental seperti inilah yang ditanamkan Indra Sjafrie kepada anak-anaknya. Untuk itulah dia mensyaratkan mental sebagai salah satu syarat wajib yang harus dimiliki pemain yang bergabung dengan timnya. Intinya ada 2 untuk membangun tim yang sukses, bangunlah mental dan fisik pemain terlebih dahulu sebelum masuk dalam ranah teknis apalagi skema permainan. Jadilah Indra Sjafrie pelopor pelatih pertama yang menggunakan metode VO2MAX untuk mengetahui kemampuan fisik pemain di Indonesia.

Transisi Permainan

Apa yang paling dikeluhkan Alfred Riedl, Rahmad Darmawan ataupun Jacksen F. Tiago ketika melatih Timnas ? Ada satu suara yang sama dari ketiga pelatih top tersebut, yaitu transisi. Transisi dari situasi menyerang menuju bertahan atau sebaliknya. Bagaimana dan apa yang harus dilakukan para pemain ketika dalam situasi menyerang tiba-tiba kehilangan bola dan harus menghadapi serangan balik ? Atau kondisinya kita balik, apa yang akan dilakukan para pemain ketika berhasil merebut bola dari kaki lawan dan bergantian menguasai bola ?

Pemahaman pergerakan dengan atau tanpa bola pemain Timnas U-19 begitu prima. Mereka tahu kemana harus mencari ruang ketika bola berhasil direbut. Penguasa bola pun tahu harus melakukan apa dengan bola yang dipegangnya. Bola tidak melulu hilang lagi ketika berhasil direbut dengan susah payah. Entahlah hilang karena direbut lagi atau salah umpan karena pemain lain tidak siap mendukung transisi. Toh kita juga tidak jarang kebobolan melalui skema serangan balik. Gol Safee Sali dalam Final AFF 2010 lalu buktinya. Kita terlalu kelabakan ketika mendapatkan serangan balik karena tidak tahu harus lari kemana untuk menutup lubang yang ditinggalkan pemain lain yang  belum turun dari membantu serangan.

Jika ingin melihat sebuah tim dengan kemampuan transisi terbaik, lihatlah tim yang dilatih Mourinho. Madrid yang begitu  kental dengan kultur penyerangan atraktif berubah total ditangan Mourinho dengan bermain efektif dalam serangan balik, dan taktik ini berhasil. Kuncinya ada pada transisi. Kita belum mempunyai kemampuan itu dalam level senior, lihat bagaimana Thailand hampir selalu mampu menguasai permainan ketika berjumpa dengan Timnas. Tidak lain alasannya karena Thailand menguasai kemampuan transisi yang lebih baik.

Indra Sjafrie tampak gatal untuk memperbaiki kelemahan transisi pada pemahaman pemain timnas Indonesia selama ini. Kerja keras coach Indra terbayar. Itulah mengapa anak didiknya mampu memenangi ball possesion melawan tim sekelas Thailand sampai Korea Selatan sekalipun. Antara full-back dan winger memiliki pengertian satu sama lain. Full-back mengerti kapan waktunya melakukan overlaping, winger pun paham momen dimana mereka harus turun membantu pertahanan ketika terjadi transisi dari bertahan ke menyerang atau sebaliknya.

Kelemahan

Finishing Touch

Sehebat apapun permainan sebuah tim tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada bola yang berhasil menemui sasaran atau gol. Sampai kapan pun hasil yang dihitung dalam sepak bola adalah skor akhir, bukan shot on target atau ball possesion. Dari 10 pertandingan yang dilakoni Timnas U-19 (sampai tanggal 9/3/2013) dalam tour pulau Jawa, kita selalu mampu memenangi ball possesion. Pun jika kita tarik lebih jauh lagi, dalam turnamen resmi terakhir yang dilakoni Timnas U-19, hanya Korea yang tidak mampu kita tekan secara total. Itupun statistiknya sama dalam ball possesion, 50% berbanding 50%.

Kita berhasil menunjukan perkembangan pesat dalam penguasaan bola dan akurasi umpan yang luar biasa, namun tidak ada perkembangan signifikan dalam sentuhan akhir. Ambil contoh dalam tour Timnas U-19 di pulau Jawa, selain mendominasi pertandingan kita juga memiliki banyak peluang emas untuk mencetak gol. Sayangnya hanya sedikit yang mampu dituntaskan secara sempurna menjadi gol. Hanya 2 dari 10 pertandingan dimana Timnas U-19 mampu mencetak lebih dari 2 gol.

Bahkan, ketika Timnas U-19 bertemu dengan tim Pra PON Jateng dalam tournya, statistik mencatat jumlah operan Evan Dimas dkk ketika melawan Pra-Pon Jateng mencapai 741 kali dengan 678 diantaranya tepat sasaran. Jumlah yang lebih banyak 255 kali dari laga satu laga sebelumnya walau sayang Timnas hanya mampu merealisasikan 1 gol. Penyebabnya apalagi kalau bukan efektivitas serangan.

Indonesia memang rutin memproduksi kiper dan winger berkelas, tapi berkebalikan dengan striker bertipe pembunuh. Rahim Ibu pertiwi seakan enggan melahirkan striker berkelas predator untuk timnas kita. Jika adapun pasti berasal dari naturalisasi. Kekurangan ini masih terlihat juga dalam tubuh Timnas U-19.

Tugas mencetak gol seharusnya menjadi job desk utama seorang striker. Kita mempunyai nama Muchlis Hadi Ning dan kembali harus diakui, striker utama Timnas ini lebih sering mengecewakan dalam sentuhan terakhirnya. Dalam 10 laga tour Timnas U-19 di pulau Jawa, Muchlis hanya mampu menceploskan 2 gol, kalah dari Evan Dimas dengan 5 gol. Catatan yang seharusnya dapat diterima mengingat posisi asli Muchlis Hadi Ning sebenarnya adalah seorang gelandang serang.

Muchlis Hadi Ning

Bisa dikatakan Indra Sjafrie mencoba mempraktekan skema false nine yang belakangan ini populer dan terbiasa digunakan oleh Barcelona maupun Spanyol. Percobaan yang rasional karena seorang target man minimal harus memiliki fisik tegap dan kuat, sesuatu hal yang secara alamiah memang belum dimiliki oleh Indonesia. Tidak ada salahnya mencoba karena skema ini cocok untuk tim dengan kecepatan dan penguasaan bola yang kuat.

Ball possesion kita sudah bagus dan cenderung meningkat dari setiap laga. Tapi percuma kalau passing-passingan bagus tapi penyelesaian akhir buruk” komentar Indra Sjafrie. Perhatian lebih wajib diberikan untuk meningkatkan insting membunuh para pemain terutama barisan lini depan.

Coach Indra Sjafrie mempunyai tugas untuk berat untuk menciptakan mesin golnya dari lini kedua dimana false nine memang tidak menggunakan sebiji-pun striker murni. Semua gelandang wajib mempunyai insting gol yang baik, sejauh ini hanya Evan Dimas yang mampu menjawab. Pelatih menyadarinya dan hendak meningkatkannya. Segala cara akan dilakukan sang pelatih untuk meningkatkan naluri gol para pemain, karena orang awam pun tahu, dalam sepak bola gol adalah yang terpenting.

Kedalaman Skuad

Mungkin ada yang tidak sependapat, Garuda Muda saya pandang memang mempunyai kelemahan pada kedalaman skuad untuk beberapa posisi. Lebih banyak posisi dimana pemain inti tidak mempunyai pengganti yang sepadan jika suatu saat nanti pemain reguler berhalangan untuk turun.

Saya mencatat beberapa kali Putu Gede kerap digeser ke posisi full-back kanan ketika Sahrul Kurniawan berhalangan main entah karena sanksi atau cidera. Perubahan tersebut mengindikasikan tidak ada pengganti sepadan untuk pelapis khusus bek kanan. Paling gres, kita bisa melihat ketimpangan kualitas antara pemain reguler dengan pemain cadangan ketika Timnas U-19 mampu menang tipis 3-2 melawan tim Pra PON DIY setelah sebelumnya tertinggal 2 gol terlebih dahulu. pelapis. Tidak ada nama Putu Gede, Hansamu Yana, Evan Dimas, Zulfiandi, Ilham Udin, atau Muchlis Hadi. Indra Sjafrie bermaksud memberikan jam terbang lebih kepada pemain pelapis.

Saya melihatnya sejalan dengan fakta tadi, lini per lini Timnas mungkin hanya diisi satu dua nama saja sebagai pelapis yang hampir atau setara secara kualitas. Fahri Albar (center back) di lini belakang, Paulo Oktavianus Sitanggang bersama Hendra Sandi Gunawan (gelandang) untuk lini tengah, terakhir lini depan yang saya pikir memilki alternatif paling bayak, itupun terbatas karena Yabes Roni, Reza Pahlevi, Dinan Javier dan Dimas Drajad melapisi 3 posisi dalam skema 3 striker milik Indra Sjafrie.

Praktis Putu Gede, Hansamu Yama, dan Fatchu Rochman merupakan nama pasti yang tidak boleh secara bersamaan cidera atau terkena sanksi. Lebih-lebih Ravi Murdianto, ketika dia tidak dapat bermain, kita pantas ketar ketir karena pelapisnya tidak ada yang setara dengannya atau minimal mendekati kualitas sang kiper.

Hanya lini depan yang saya hitung memiliki pelapis cukup. Tapi apakah nanti ketika diantara Zulfiandi, Maldini Pali, Ilham Udin atau Muchlis Hadi cidera tidak akan mengacaukan persiapan tim ? Jika kita hanya kehilangan satu pemain reguler, mungkin kita masih bisa berharap penampilan Timnas akan baik-baik saja. Tapi bagaimana jadinya jika 2-3 pemain reguler tumbang bersamaan ? Lebih-lebih jika Evan Dimas yang tidak bisa bermain, apakah kita sudah siap dengan kondisi yang tak terduga seperti itu ? Saya sadar kita bukan Jerman yang dikaruniai kedalaman skuad luar biasa, saya hanya ingin para staff pelatih menyadarinya. Piala Asia bukan kompetisi sembarangan, kita akan menghadapi tim-tim dengan kekuatan setara bahkan diatas level Indonesia. Kedalaman skuad memiliki rasio yang tinggi untuk menentukan kesuksesan.

Soliditas Lini Belakang

Dari jaman batu dulu, sampai saat ini umpan silang selalu menjadi rahasia kelemahan sejuta lawan Indonesia. Duel udara seakan menjadi hantu abadi yang paling sering menggentayangi jala gawang skuad merah-putih. Sisi negatif inilah yang paling sering dieksploitasi tim lawan, terutamanya ketika kita bertemu tim dengan postur tubuh lebih menjulang, duta-duta timur tengah yang paling favorit. Sayang, kelemahan ini tetap tidak hilang ditangan pasukan pembawa harapan, Timnas U-19.

Kelemahan kita terhadap umpan-umpan silang terlihat jelas ketika skuad jawara Asia Tenggara ini menyudahi perlawanan Persebaya U-21 dengan skor 4-2 dalam rangkaian tour di pulau Jawa. Ada pelajaran yang begitu penting ketika 2 gol Persebaya U-21 berasal dari duel udara. Kelemahan ini sebenarnya sudah lama disadari pelatih. Jika ditarik lebih kebelakang, Indra Sjafrie pernah mengatakan kelemahan skuadnya memang mengantisipasi bola udara selepas Indonesia menghadapi Korsel di babak penyisihan Piala Asia lalu.

Evan Dimas Melewati Hadangan Pemain Persebaya

Kita masih lemah ketika mengantisipasi bola-bola atas. Dua bek tengah juga memiliki kelemahan saat berbalik badan. Maka dari itu, saat pertandingan lawan Korsel yang dicegah adalah proses bola mati dan umpan silang” ungkap Indra Sjafrie setelah pertandingan melawan Korea Selatan.

Target sang pelatih begitu tinggi, mampu tampil baik di Piala Asia 2014 dan menmbus Piala Dunia 2015. Untuk menggapainya tentu bukan perkara semudah membalikan telapak tangan, semua lawan dengan keunggulan fisik dari Indonesia berjejer lengkap di dua kompetisi tadi. Kelemahan dalam umpan silang akan menjadi target empuk untuk dieksploitasi secara frontal oleh lawan-lawan kita kelak, semoga saja ada perbaikan.

Variasi Permainan

Dari awal saya mengikuti perkembangan Timnas U-19 mulai dari Turnamen HKFA Hongkong sampai Timnas U-19 Indonesia Tour, saya melihat Timnas U-19 begitu fasih bermain dengan pola 4-3-3. Saya pun tidak pernah melihat tim turun kelapangan dengan komposisi formasi yang berbeda. Apakah itu berarti coach Indra kurang kreatif dalam menerapkan pola ? bisa jadi tidak, siapa tahu beliau memang ingin memantapkan pola utama yang akan dia usung di agenda besar yang akan timnya jalani. Bisa jadi juga memang tidak ada opsi lain.

Sjafrie telah memilih 4-3-3 sebagai pakem yang baku untuk timnya. Dasarnya jelas, tidak ada skema yang lebih cocok untuk memaksimalkan peran kecepatan terutama dari winger selain formasi 4-3-3 beserta opsi turunannya seperti 4-2-3-1 atau 4-2-1-3. Indonesia telah lama mengenal sistem 3 penyerang dan sukses ketika menggunakannya. Ingat kedua catatan saya tentang Antun Pogacnik ? masa dimana dijamannya-lah Indonesia mencapai puncak kejayaan. Toni mantap memilih skema WM (3-2-2-3) yang terkenal di era 50-an untuk Indonesia. Pada intinya sama, formasi WM menggunakan 3 striker dalam prakteknya.

Pantas selepas era Pogacnik Indonesia terus mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya mungkin karena kurangnya kecerdasan taktik selepas Pogacnik pergi, sama sekali bukan kekurangan teknik karena secara umum Indonesia terus mampu memproduksi pemain berbakat. Kita tidak mau untuk terus berinovasi dengan gaya yang sesuai dengan apa yang Tuhan anugrahkan pada kita.

Indra Sjafrie ingin meninggalkan secara total permainan bola-bola panjang. Persis dengan perkembangan sepak bola era ini yang menjurus pada taktik yang sama. Permainan Timnas U-19 seperti permainan sebuah tim yang berasal dari luar Indonesia dengan gayanya yang baru. Tapi semuanya tidak berjalan semudah itu, taktik sehebat apapun pasti mempunyai taktik lain untuk meredamnya. Seperti gaya Total Football yang berhasil dipatahkan oleh Catenaccio atau  permainan tiki-taka dengan gaya pragmatis sebagai “penawarnya”.

Tim dengan gaya umpan-umpan pendek-rapat begitu kesulitan ketika berhadapan dengan tim yang bermain dengan pressing zona marking yang ketat dan pragmatis atau melawan tim yang bermain dengan kekuatan fisik yang prima. Semua lawan Timnas U-19 dalam tour Jawa lalu sudah mempraktekan langsung gaya pragmatis di lapangan. Hasilnya adalah pertandingan yang alot dan skor akhir yang tidak begitu mencolok.

Semua tim menempatkan hampir semua pemainnya untuk mengamankan zona sepertiga lapangan. Pemain lawan tidak perlu lagi mengejar bola yang dipegang pemain timnas, cukup menjaga daerah dan ketika bola tiba didaerahnya baru di-intercept. Jika bola berhasil direbut, gunakan tenaga dan lakukan pukulan balik secepat mungkin. Hampir semua gol yang terjadi ke gawang Timnas bermula dari sini, serangan balik. Memang pada esensinya begitu, tim dengan gaya ball possesion begitu kerepotan dengan serangan balik yang cepat. Tidak terkecuali Barcelona dan Spanyol.

Saya belum pernah menemukan Indra Sjafrie melakukan perubahan taktik sekalipun timnya mengalami kebuntuan. Rasional jika alasannya ingin memantapkan pakem kepada semua pemain hingga tidak pernah sekalipun mengubah formasi dalam Tour di pulau Jawa lalu karena ini uji coba, uji cobalah waktu yang tepat untuk memantapkan sebuah skema dan formasi sebuah tim.

Tapi dalam kompetisi resmi terakhir lalu pun saya tidak melihat adanya variasi lain diluar skema awal. Hanya ketika Timnas U-19 berhasil unggul 3-1 atas Korsel saja terjadi perubahan, itupun hanya perubahan lazim untuk tim manapun ketika mereka sudah unggul dengan menarik 1 striker dan menggantikannya dengan gelandang atau bahkan bek. Wajar saya katakan kita masih miskin variasi permainan, sampai saat inipun saya belum melihat Indra Sjafrie mempunyai variasi Plan A, Plan B atau bahkan Plan C.

Kita butuh variasi, karena kedepan kita tidak tahu tim seperti apa dan kondisi apa yang akan kita hadapi. Ketika kita mengalami kebuntuan karena tim lawan sudah mempelajari gaya Timnas dengan baik, disaat itulah kita butuh variasi permainan. Adalah sulit mengharapkan hasil berbeda dengan cara yang sama.

Kesimpulan

Saya menulis lebih banyak kekurangan dbanding kelebihan karena bagi saya kekurangan lebih mudah ditemukan ketimbang kelebihan. Saya mengamati Timnas U-19 secara langsung dan terus mengikuti perkembangan mereka. Sebagai fans saya rasa wajar-wajar saja memiliki pandangan dengan lebih banyak melihat kelemahan untuk tujuan perbaikan.

Kedepan, Timnas U-19 mempunyai agenda untuk menjajal sebuah kompetisi undangan dari Eropa dan Timur tengah. Inilah waktunya untuk benar-benar memantapkan kemampuan Timnas U-19. Dalam tour Jawa kita cukup perkasa sekalipun menghadapi tim-tim dengan usia diatas Timnas U-19. Suasana dalam kompetisi ujicoba kedepan ini lebih menarik. Lawan-lawan kuat memastikan diri untuk hadir, Jepang, China, AS, Chili, Valencia dan Barcelona adalah beberapa daftar tunggu yang siap untuk menghadapi Indonesia. Hebatnya, lawan-lawan kita nanti mempunyai golongan usia yang lebih tua dibandingkan Indonesia. Ada U-20 sampai U-21. Kita harus siap. Untuk menjadi kuat, kita harus bisa melawan tim kuat juga, itu pula yang dikatakan coach Indra Sjafrie.

Inilah waktunya untuk mengukur sampai sejauh mana kesanggupan kita mewujudkan impian tinggi Indonesia dalam Piala Asia 2014 Myanmar atau Piala Dunia 2015 Selandia Baru. Pelajaran adalah hal yang pasti kita dapatkan di Eropa dan Timur Tengah, apalagi jika kita sampai merasakan kekalahan. Karena dalam kekalahanlah semangat kita untuk belajar akan semakin tinggi.

Saya ingin melihat, taktik, gaya, dan komposisi lain apa yang pelatih punya ketika mengalami tekanan hebat dari tim yang secara kualitas diatas kertas lebih baik. Saya yakin, kerangka pasti permainan Timnas U-19 akan terbentuk selama Tour Eropa dan Timur Tengah ini.

Tur Timur Tengah merupakan lanjutan dari tur nusantara. Kalau tur nusantara kami mencari komposisi alternatif pemain, sekarang kami tahu kalau ini tidak main, siapa yang harus menggantikan. Nah hasil ini akan kami bawa pada ke Tur Timur Tengah, demikian pula untuk Tur Eropa,” ujar Indra seperti dikutip Antara.

Harapan kita ada di pundak Timnas U-19

Silahkan jika teman-teman berkenan untuk melakukan analisa sesuai topik ini di form komentar. Terima kasih sudah mampir untu membaca.

Salam virfast.com

Referensi : Bola.net, republika, kompasiana

468 ad

One Comment

  1. Kompetisi yg ada di negara kita hanya ISL..ISL sdah dengan budayanya seperti itu..susah utk merubah dlm wkt singkat.
    Apabila para pemain timnas19 masuk ke club2 ISL pasti akan rusak cara mereka bermain..
    Sebaiknya para pemain dikontrak dlm satu klub dengan pelatih indra safrie

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>